Langit begitu gelap bagai arang.
Kilat membara menyilaukan mata. Rinai hujan tumpah membasahi bumi. Mentari pun
tak mau berbagi cahaya. Sungguh mendera dalam jiwa. Raga jatuh terkulai di atas
tanah. Memang luka teramat sangat, tapi semua hanya takdir yang berjalan. Hati
yang begitu lumpuh oleh kuasaNya nyaris mati tertelan badai. Jiwa tergunjang
hebat ketika raga tak kuat bertahan. Sungguh dunia sangat gelap, bagai tak ada
sinar yang mau tampak olehku. Masa demi masa telah dinanti, namun asa yang
begitu dasyat membakar jiwa. Seolah tak ada jalan untuk keluar.
Ingin dunia yang penuh duka ini
dalam genggaman tangan nan indah. Namun apakah miungkin satu lebah bisa
mengalahkan seekor kelelawar? Mimpi yang indah seakan melayang-layang dalam
angan yang palsu. Diri yang tak kuat melangkah hanya mematung dalam keheningan.
Rajutan indah dalam masa lalu akan selalu terbayang oleh asa dan duka. Sungguh
takdir tak bisa di tebak, kadang mengisahkan suka dan kadang mengisahkan luka.
Hanya dalam hati kata dapat terucap indah.
Cahaya redup hiasi asa yang begitu
rumit. Air yang hanya mengalir kini berubah menjadi arus. Ku sentuh namun
terlalu cepat hingga ku terbawa pergi. Menelusuri angan yang kian lama hilang.
Mimpi yang indah itu kembali muncul dalam asa ku. Sungguh sepercik cahaya telah
berpihak kepadaku. Ingin ku berlari menembus awan yang begitu kasat di mata. namun
ku takut terjatuh. Hingga ku coba berjalan pelan tapi pasti. Puncak yang dulu ku
nanti akan segera ku temukan. Dalam bahagia asaku hilang.


0 komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar anda