Secarik kertas tak mampu melukiskan goresan luka itu.
Hanya angin yang memiliki waktu tuj membacanya.
Bahkan secawan madupun bagai tak berdaya menopangnya.
Berat teramat menjalar di sukma.
Berharap sinar terang kan menjemput
(Kediri, 22 Mei 2012 / 19:49)
Batu tersisir bagai rongga tak bertuah,
pasir membara seakan melahap setiap kaki menginjaknya.
Angin pun tak jua henti berkelana.
Terenyuh hati terpaku, silau tertusuk sang mentari.
Bumi pun bersua tak ramah.
Ingin secercah cahaya itu masih ada untukku.
(Kediri, 24 Mei 2012 / 04:37)
Derai kasih dalam untaian hati.
Teroreh senyumbersampul ikhlas.
Telah usang kelana sang surya.
Hanya bait-bait do'a yang kini menari diatas rembulan.
Ingin ku mencoba menjamah hati yang kelam.
Namun tak satupun cahaya bersua padaku.
Bdrbagai angan kian mendera,
sang surya kembali dengan kebahagiaan.
(Kediri, 25 Mei 2012 / 20:52)
Derap langkah membisu.
Sanjung kata beribu maknadalam sandiwara.
Tak bergeming mata dibuai tawa.
Sudah kian lama hampa dalam raga.
Kuntum mawarpun tak jua bersapa.
Kini hanya waktu yang mampu membaca
Arti sebuah kesempurnaan.
(Kediri, 28 Mei 2012 /21:44)



0 komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar anda